Cinta
Abadi dan Hakiki
Oleh
: Sri Utami
"Katakanlah: jika
kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan
mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” ( QS.Ali
Imran:31 ).
-------------------------------
Allah SWT merupakan tujuan tertinggi dan paling hakiki dalam
kehidupan manusia di dunia ini. Karena itu, apa pun yang dilakukan haruslah
berujung kepada tujuan tersebut. Salah satu caranya, yaitu dengan memahami
konsep mahabbah (cinta) kepada Allah. Perasaan cinta tersebut harus diikuti
dengan ketulusan untuk mengorbankan apa saja kepada-Nya.
Mahabbah merupakan perasaan
rindu dan senang yang istimewa terhadap sesuatu. Perasaan demikian menyebabkan
seseorang terpusat kepadanya bahkan mendorong orang tersebut untuk memberikan
yang terbaik. Mahabbah dapat pula berarti al-waduud, yakni yang sangat kasih
atau penyayang.Konsep mahabbah ini pertama kali dicetuskan oleh seorang sufi
wanita terkenal, Rabi'atul Adawiyah. Menurutnya, mahabbah atau cinta yang suci
murni tersebut lebih sempurna dari pada rasa takut (khauf) ataupun rasa
pengharapan (raja') karena cinta yang suci murni tidak mengharapkan apa-apa
dari Allah kecuali ridha-Nya.
Tokoh tasawuf tersebut
mengatakan, mahabbah merupakan cetusan dari perasaan rindu dan pasrah
kepada-Nya sehingga Adawiyah sendiri rela mengorbankan seluruh hidupnya untuk
mencintai Allah. Bahkan, begitu cintanya kepada Allah ia menolak untuk menikah
selama hidupnya.Cinta kepada Allah juga akan melahirkan bentuk kasih sayang
kepada sesama, bahkan kepada seluruh alam semesta. Hal ini didasarkan pada
dalil-dalil syara', baik dalam Alquran maupun hadis yang menunjukkan tentang
persoalan mahabbah.
Sementara, Imam al-Ghazali
mengatakan, cinta adalah suatu kecenderungan terhadap sesuatu yang memberikan
manfaat. Jika kecenderungan tersebut mendalam dan menguat maka ia dinamakan rindu.Menurut
al-Ghazali, orang yang mencintai selain Allah, tapi cintanya tidak disandarkan
kepada Allah maka hal itu karena kebodohan dan kepicikan orang tersebut dalam
mengenal Allah. Ia mencontohkan seperti halnya cinta umat Islam kepada Nabi
Muhammad SAW, bahwa cinta tersebut merupakan wujud kecintaan kita terhadap
Allah SWT. Hal itu karena Muhammad adalah hamba-Nya yang dicintai-Nya.
Para kalangan Sufi memang
menganggap mahabbah sebagai modal awal untuk menjalin komunikasi kepada Allah
SWT. Dalam buku Tasawuf Madzab Cinta, dikisahkan Abu Yazid al Basthami
mendefinisikan mahabbah sebagai sikap menganggap sedikit sesuatu yang banyak
yang berasal dari diri kita dan menilai hal sedikit yang bersumber dari kekasih
kita sebagai sesuatu yang besar. Karena itu, cinta kepada Allah merupakan
tingkatan puncak dari rangkaian tingkatan dalam tasawuf.
Namun, untuk menemukan cinta
sejati Allah tersebut, kita mungkin perlu terlebih dahulu mulai belajar membaca
Alquran dengan benar dan memahami kandungan dan maksudnya. Selain itu, tekun
melakukan shalat fardhu beserta shalat sunahnya. Sebab, hal ini nantinya juga
dapat mengantarkan kita ke tingkatan cinta yang lebih tinggi kepada Allah.
Selain itu, kita harus lebih mendahulukan apa yang dicintai Allah dari pada
cinta hawa nafsu kita walau hal ini berat. Karena itu, kita harus selalu
komitmen dan selalu konsi Busten dengan aturan Allah.
Allah mengingatkan dalam firman-Nya."Katakanlah jika
bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga kamu, harta
kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan untung ruginya,
dan rumah-rumah yang kamu senangi lebih kamu cintai dari Allah dan rasul-Nya
dan daripada berjihad di jalan-Nya maka tunggulah sampai Allah mendatangkan
putusan-Nya. Dan, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.
(QS at-Taubah :9).
Rasa cinta merupakan salah satu hal terpenting yang ada di
dalam hidup manusia. Tanpa cinta, kehidupan manusia akan menjadi hampa. Namun,
perlu diperhatikan bahwa cinta tertinggi atau puncak cinta ialah kecintaan kita
kepada Allah SWT.
Pembuktian cinta tersebut harus ditunjukkan dengan beribadah
hanya kepada Allah SWT. Ibadah, lanjutnya, merupakan puncak dari rasa cinta
kepada Allah SWT. Sementara itu, sebagaimana dikatakan para ulama, ibadah yang
dilakukan seorang manusia tidak akan sempurna jika tidak didirikan di atas tiga
fondasi utama. "Pertama al mahabbah atau rasa cinta, kedua al khauf atau
rasa takut, dan ketiga ar raja' atau rasa harap. Inilah tiga fondasi utama
berdirinya ibadah seorang hamba.
Ketika ibadah seorang hamba kehilangan salah satu dari tiga
fondasi yang mulia ini, ibadah yang ia kerjakan tidak akan sempurna. Para ulama
terdahulu mengatakan, barang siapa yang beribadah kepada Allah hanya dengan
bermodalkan al mahabbah atau rasa cinta, ia merupakan seorang yang munafik;
barang siapa yang beribadah kepada Allah hanya bermodalkan rasa harap, ia akan
menjadi seorang Murji'ah dan barang siapa yang beribadah kepada Allah hanya
bermodalkan rasa takut akan siksaan Allah Swt.
Cinta yang abadi dan kekal
selamanya hanya untuk AllahSwt.
Cinta itu memang indah, damai, tenang dan membahagiakan. Alangkah
muramnya dunia ini tanpa Cinta. Cinta itu fitrah, anugrah dan perasaan terindah
yang dimiliki oleh Manusia.
Aku menyukai kalimat ini. Ketika manusia terjatuh dalam cinta, mungkin ia akan
kembali kepada sang Pemilik Cinta. Karena ketika kita sadar bahwa semua adalah
titipan dari-NYA. Maka rasa sakit itu tidak akan bersemayam lama dalam diri
kita. Berikut kutipannya:
Mencintai makluk berpeluang untuk menemui kehilangan.
Kebersamaan dengan makhluk juga berpeluang mengalami perpisahan. Hanya Cinta
kepada Allah yang tidak akan pernah lekang sampai akhir zaman. Jika mencintai
seseorang ada dua kemunginan di terima dan Ditolak. Jika ada penolakan maka
akan sakit rasanya. Jika di terima dunia terasa indah, tapi tidak ada yang
menjamin kekekalannya, jika seseorang yang di cinta telah pergi. Jika mencintai
Allah sudah pasti diterima. Allah tidak akan pernah meninggalkan makhluk-Nya
yang sangat mencintainya. Cinta Allah akan kekal, Abadi selamanya. Kita tidak
akan pernah merasa kehilangan, kita tidak akan pernah dikecewakan. Tidak ada
yang akan merebut Allah yang kita cintai dari hati kita. Tak kan ada yang
merampas Allah. Jika kita bermesraan dengan Allah, hidup bersama Allah, kita
tidak akan pernah berpisah dengan-Nya. Allah akan setia menyertai setiap
gerak-gerik langkah kita bahkan lebih dekat dari urat nadi kita. Allah tidak
akan berpisah dari kita , kecuali kita sendiri yang berpisah dari-Nya. Cinta
yang paling membahagiakan dan menyembuhkan adalah Cinta kepada “Allah
AzzawaJalla”.
cintailah seseorang karena Allah SWT.
cintailah dia karena Allah mencintainya.
cintailah dia karena Allah menitipkannya dan mengamanahkannya kepada kita.
cintailah dia dan relakan kepergiannya, karena memang Allah sudah berkehendak
demikian.Cinta sejati itu menyembuhkan tidak menyakitkan.
Ibnu Athaillah
berkata;
“la yukhriju asy
syahwata illa khaufun muz’ijun aw syauqun muqliqun.”
Artinya; Tidak ada
yang bisa mengusir syahwat atau kecintaan pada kesenangan dunia, Selain rasa
takut kepada Allah yang menggetarkan hati atau rasa rindu kepada Allah yang
membuat hati merana.Semoga kita bisa menempatkan cinta ke tempat yang
sesungguhnya. Sehingga hidup kita akan selalu di penuhi oleh cinta kepada Sang
Pemilik Cinta Sejati dan abadi yaitu Allah Swt.
Cinta
Menurut Imam Al Ghazali dan Ibnu Athoillah
Siapa yang tidak pernah merasakan cinta? Hampir semua orang yang
pernah jatuh cinta merasakan apa yang dirasakannya. Menurut Ibnu Athoillah perasaan itu (cinta)
tidak akan bisa dikeluarkan, diusir dari dalam hati, kecuali jika kamu memiliki
2 hal.
Pertama, rasa cinta kepada
Allah yang luar biasa, yang menggetarkan hatimu. Sehingga ketika yang ada di
hatimu adalah Allah, yang lain dengan sendirinya menjadi kecil dan terusir. Kedua, rasa rindu kepada Allah yang
dahsyat sampai hatimu merasa merana. jika kau merasa merana karena rindu kepada
Allah, kau tidak mungkin merana karena rindu kepada yang lain. Jika kau sudah
sibuk memikirkan Allah, kau tidak akan sibuk memikirkan yang lain.
Saat hati seseorang miskin oleh cinta dan
rindu kepada Allah, maka hati itu akan dijajah oleh cinta dan rindu pada yang
lain. Jika kau mencintai seseorang ada dua kemungkinan; diterima atau ditolak.
Namun jika kau mencintai Allah pasti diterima. Jika kau mencintai Allah, engkau
tidak akan pernah merasakan kehilangan.
Senada dengan hal itu, dalam konsep cinta (mahabbah), seorang
Sufi terkemuka yakni Imam Al-Ghazali
juga terkenal akan munajatnya kepada Allah SWT. Bagaimana Ia menawarkan sebuah
konsep cinta dalam buku Keluarga Sakinah (Abdul Qodir Jaelani, Keluarga
Sakinah, 57), yang mengungkapkan bahwa “Cinta adalah satu sifat khas bagi
makhluk hidup yang berperasaan. Cinta tak akan ada pada kayu, batu, dan makhluk
yang mati. Manusia memiliki segala sesuatu yang sesuai dengan tabiatnya, lalu
cenderung mencintainya. Tak mungkin ada cinta sebelum sesuatu itu dikenal atau
dilihat.”
Menurutnya ada empat hal yang bisa dipahami tentang cinta, Pertama, yang dicintai oleh manusia
adalah dirinya sendiri. “cinta diri” ini berarti ingin terus hidup, dan tidak
mau rusak atau binasa. Ia suka keabadian dan kesempurnaan wujud dirinya, dan
ini merupakan tabiat yang ditentukan oleh Allah SWT alias sunnatullah. Kedua,Manusia suka keselamatan dirinya,
harta bendanya, anak istrinya, kaum kerabatnya. Itu semua merupakan kelengkapan
bagi wujud dirinya sendiri.
perbuatan orang baik dari orang lain. Ini juga merupakan suatu
tabiat yang tak dapat diubah. Karena itu, manusia kadang kadang cinta
kepada seseorang yang tidak ada hubungan famili dengan dia. Ia cinta kepada
dokter yang menyembuhkan penyakitnya. Dan hal ini, apabila kita tinjau lebih
dalam, akan kembali pada sebab yang pertama, yaitu cinta kepada diri sendiri.
Ketiga, manusia mencinta
sesuatu karena memang zat tercinta itu sendiri. Inilah cinta sejati yang dapat
dipercaya. Cinta semacam ini antara lain seperti cinta terhadap keindahan,
kebagusan dan kecantikan. Semua itu merupakan nikmat tersendiri.
Keempat, manusia yang terbatas
pandanganya dalam ruang lingkup materi, mengira bahwa keindahan itu hanya pada;
muka yang manis, kulit putih kunig atau kemerah-merahan, badan langsing dan
lainya. Bagi manusia yang mempunyai pandangan yang jauh, indah itu mempunyai
pengertian yang lebih lengkap, yaitu segala sifat-sifat kesempurnaan yang
melekat pada benda atau makluk itu. Kuda yang bagus dan indah adalah kuda yang
memiliki sifat sifat yang lengkap, seperti rupanya, bentuk badanya,
kecepatan larinya dan tenaganya.
Keindahan dan kecantikan itu bukan pada bentuk
materinya, tetapi karena sifat-sifat yang melekat pada materi tersebut, yang
secara indrawi tidak dapat dilihat atau dirasa, tetapi secara rohani ia
benar-benar menumbuhkan rasa cinta yang dalam. Sifat-sifat itu antara lain;
kebijaksanaan, kecerdasan, keberanian, kemurahan hati, ketaqwaan, rendah hati.
“Cinta kepada orang yang bersifat seperti itu disebut cinta sejati.” (Al
Ghazali,)
Tulisan yang mengandung makna spiritual yang tinggi. Terima kasih
BalasHapus